MAHLUK UNIK LAUT DALAM/ DEEP-SEA ODDBALLS (Re: SJADES 2018)


Ekspedisi Biodiversitas Laut Dalam Selatan Jawa 2018 (South Java Deep Sea Biodiversity Expedition atau disingkat SJADES 2018) memulai pelayarannya pada Jumat malam tanggal 23 Maret dengan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya 8. Pelayaran diawali dengan melintasi Selat Sunda di antara pulau Sumatera dan Jawa selama empat hari untuk mulai memasuki kawasan terbuka Samudera Hindia. Hari-hari tersebut kami manfaatkan untuk mengecek-ulang prosedur dan melakukan tes alat-alat dengan anggota kru dan tim untuk memastikan spesimen yang akan dikoleksi dapat ditangani dengan baik.

Namun alam tidak berpihak pada kami. Keadaan laut sangat bergelombang dan disertai hujan akibat imbas ekor badai yang berada jauh di selatan dari tempat kami berlayar. Tidak dapat dihindari, kami pun merasakan cobaan di kala hampir dari setengah anggota tim termasuk kedua chief scientist ditempa mabuk laut. Harapan untuk mendapatkan berbagai biota laut dari laut dalam menjadi motivasi untuk tetap semangat. Bisa dibilang, saat itu kami berhasil melewati sebuah badai – baik secara harfiah maupun kiasan. Sukses yang menjadi harapan kami dari ekspedisi ini menjadi obat untuk semua rasa mabuk laut dan letih yang melanda.

Dan akhirnya kami pun berhasil melewati badai tersebut. Di hari-hari berikutnya, alat sampling biota dari dasar laut dan kolom air laut serta alat sampling sedimen berhasil memasuki kedalaman hampir 1000 m dan mengkoleksi berbagai biota unik dari laut dalam. Banyak peneliti yang terlibat dalam ekspedisi ini belum pernah melakukan sampling biota laut dalam sebelumnya, sehingga antisipasi dari setiap tangkapan sampling pun begitu besar. Lebih lagi, kami berhasil mengkoleksi beberapa biota dalam keadaan hidup! Dan menjadi hiburan tersendiri untuk menyaksikan para peneliti berlompatan gembira ketika melihat spesimen laut dalam di wahana kapal ini, nampaknya ibarat anak kecil yang sedang kegirangan berada di toko mainan. Meskipun semua peneliti pernah melihat foto-foto biota laut dalam, pada kenyataannya sangat berbeda ketika dapat melihat biota tersebut secara langsung apalagi dengan wujud biota yang begitu unik, bagaikan makhluk asing atau alien dari bawah laut!

Di hari keempat (26 Maret 2018), kami menemukan jackpot apalagi dengan ritme kerja kami yang semakin terlatih. Di perairan antara Selat Sunda dan Samudera Hinda, kami berhasil mengeruk dasar laut sampai kedalaman 1600 m dan untuk pertama kalinya mendapatkan banyak biota laut yang aneh. Termasuk di dalamnya bintang laut yang jarang ditemukan, timun laut (teripang) raksasa, sponge kaca yang unik, spesies baru kepiting laba-laba, kelomang yang aneh dan mungkin temuan terbaik kami hari itu adalah isopod raksasa sepanjang 30 cm! Kami akan memberikan detail dari penemuan-penemuan tersebut dalam waktu dekat.

Secara anti-klimaks, keadaan laut semakin tenang dan cuaca semakin membaik di hari kelima ketika kami justru berada di Samudera Hindia. Namun, medan sampling menjadi lebih sulit karena batimetri dasar laut yang lebih kompleks sehingga terkadang peta pun tidak lagi bisa dijadikan acuan. Sampling biota dari kedalaman 1000 m menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Alat sampling biota dan sedimen dasar laut kami beberapa kali gagal memberikan hasil. Tapi kami sudah mengantisipasi hal ini, karena biota laut dalam dari kawasan ini memang belum pernah didapatkan sebelumnya. Boleh dibilang hasil kami tidak terlalu buruk, sampai dengan tanggal 30 Maret 2018, kami telah berhasil melakukan sampling dari 36 stasiun dan hanya tiga diantara gagal.

Kepala ekspedisi dari Indonesia, Prof. Rahayu pun puas – beliau telah menemukan lusinan kelomang (yang merupakan biota keahliannya) yang baru dan tidak diharapkan sebelumnya. Bahkan salah satu spesies yang hidup di kayu lapuk sempat bertelur setelah kami koleksi. “Penemuan dari ekspedisi ini luar biasa dan menggembirakan! Kami telah menemukan banyak spesimen yang tidak kami kira hidup di bawah sana. Semuanya biota yang ada di Indonesia! Kami harus menemukan lebih banyak lagi, terutama tentu saja kelomang” komentar Prof. Rahayu.

Kepala ekspedisi dari Singapura, Prof. Ng mencatat “Tim ekspedisi ini bekerjasama dengan erat, bahkan di hari kedua semuanya telah berjalan dengan baik. Koleksi biota kami sejauh ini telah meliputi berbagai spesies penting termasuk di dalamnya banyak penemuan pertama dari Indonesia dan kawasan ini. Sejauh ini sangat menarik. Bagi saya, senang sekali dengan koleksi kepiting dan isopod “Darth Vader” yang saya dapatkan!”

Dan saat ini, kru dan tim memasuki leg kedua dari ekspedisi ini, tentunya dengan intensitas dan harapan yang lebih lagi. Stay tuned!

-----------------------------------------------

The South Java Deep Sea Biodiversity Expedition of SJADES 2018 kicked off on 23rd March, sailing off in the BARUNA JAYA 8 on the evening tide. The first four days were spent in the Sunda Straits between the islands of Sumatra and Java, and facing the open Indian Ocean. The time was used to good effect to fine-tune procedures, test the equipment with the crew and team, and ensuring the specimens are well handled when collected.

Mother Nature, however, was not kind to us. The seas were choppy, it was raining and the boat was rocking badly – we were suffering the tailwind effects of a cyclone much further south. It was a testing time as half the team (including both chief scientists!) was sea-sick on the first day. And we had to work a 16 hour shift as we had much to do. But the excitement of trying to catch deep sea animals was palpable and everyone persevered. We survived the storm – literally and figuratively. But the anticipation of success is a wonderful tonic for seasickness and tiredness.

And we were successful. In the first few days, the dredges, trawls and corers entered depths of almost 1000 metres, collecting many strange animals. Many of the scientists on board have never handled deep sea animals before, and all were extremely excited each time the catch came up. More so that some animals were still alive! It was amusing to see grown women and men jumping around in excitement like kids in a toy shop! While all the scientists have seen photographs of these animals, it is very different to see them in the flesh – and they have literally, out of this world appearances (see below). They are indeed aliens from the deep!

The fourth day (26th March) was a bonanza for the team as the skills got honed. In the waters between the Sunda Strait and Indian Ocean, the team trawled to depths of almost 1600 m and we obtained many strange animals for the first time. This included a new infraclass of sea stars, giant sea cucumbers, bizarre glass sponges, new species of spider crabs, strange new hermit crabs, and arguably the catch of the day was a 30 cm long giant isopod! We will share the details of these discoveries with all very soon!

Surprisingly, the entry into the main Indian Ocean itself on the fifth day was somewhat of an anti-climax as the waters got calmer and the weather got better. That been said, sampling got trickier as the terrain was more rugged and the maps were not always reliable. As such, sampling at depths of 1000 metres got more difficult. Some trawls and cores failed completely. But this we expected – sampling in an area that has never been sampled before for bottom-dwelling animals is not easy. But we did not do too badly – as of 30th March, the team has logged 36 stations. Of these, only three were considered failures.

The Indonesian expedition leader, Prof Rahayu was delighted - she has already found dozens of new and unexpected deep-water hermit crabs (her research speciality) and even hatched out the eggs of one strange species that lives in rotten wood! She comments “The discoveries have been overwhelming and exciting! We have found many things we never imagined were living down there – and they are all Indonesian animals! We must find more – especially hermit crabs of course!”

The Singaporean expedition leader, Prof Ng notes that, “The expedition team has gelled together very well and by the second day, things were already coming along smoothly. The collections so far have uncovered a large number of scientifically important species, including many new records for Indonesia and the region. It has been singularly exciting. I am particularly happy of course with my crabs and my cool “Darth Vader” isopod!”

And we now enter the second half of the expedition with renewed vigour and anticipation! Stay tuned!


Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948
E-mail kontak: humas.oseanografi@mail.lipi.go.id

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI