Studi BRIN: Potensi Konservasi di Perairan Kabupaten Sikka


Jakarta, Humas BRIN. Kabupaten Sikka memiliki destinasi wisata bahari yang sangat menarik dan luar biasa, baik dari panorama bawah airnya, kain tenun yang menjadi ikon, kesenian dan juga sejarahnya. BRIN sebagai lembaga riset telah melakukan kajian terkait potensi konservasi di perairan Kabupaten Sikka, tutur Peneliti Oseanografi BRIN, Hanung Agus Mulyadi, selaku Koordinator Lapangan Reef Health Monitoring (RHM), yang disampaikan dalam pertemuan kunjungan Tim RHM di Kantor Bupati Kabupaten Sikka, pada Minggu (12/9) lalu.

Hanung menjelaskan, hasil studi di perairan Kabupaten Sikka tahun 2016-2018 lamun-nya masih bagus, bahkan padang lamun kondisinya masih sangat baik dengan status “hijau”. Sedangkan untuk terumbu karang dalam kondisi yang merah. Tapi hal ini tidak perlu dikhawatirkan sebetulnya bisa dipersiapkan langkah kedepannya dengan rehabilitasi terumbu karang, transplatasi karang, dan sebagainya sehingga kondisi terumbu karangnya bisa pulih kembali”, jelas Hanung.

Menurut Hanung, Kabupaten Sikka perlu melakukan kajian lebih lanjut terkait pemetaan potensi wisata diantaranya potensi tangkapan palagis kecil, palagis besar dan ikan karang. Dan juga inventarisasi berapa armada kapal, dimana saja jumlah lokasi nelayan yang mengkail ikan, dan dimana akan menentukan daerah konservasi yang nantinya ditetapkan sebagai konservasi terbatas, daerah tersebut masih diperbolehkan untuk penangkapan ikan, karena harapannya data tersebut menjawab dari konektifitas. Selanjutnya tinggal bagaimana pemerintah daerah untuk melakukan proses strategy branding untuk menarik wisatawan, terang Hanung.

Lebih lanjut Hanung, mengatakan hasil pemantauan dari masing-masing site, didapatkan trend dari komposisi atau jumlah jenis macam-macam ikan, dimana yang tertinggi jumlah jenisnya di Kojadui Alok Timur. Bila di support pemerintah daerah untuk dapat di arahkan destinasi wisata panorama bawah air maka lokasi ini bisa menjadi salah satu masukkan dengan komposisi ikan paling tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Kabupaten Sikka, ucapnya.

Bupati Kabupaten Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, menyambut baik kunjungan Tim RHM dan mengapresiasi atas informasi dari hasil penelitian Tim RHM BRIN. Untuk Padang Lamun, dengan kondisi sangat baik, dimungkinkan karena kondisi perairan teluk Maumere dimana salinitasnya baik, arusnya baik, sehingga pertumbuhan seagrass cukup baik. Dan untuk ekosistem terumbu karang, mungkin dari aspek sosial ekonomi terhadap perubahan perilaku masyakarat untuk mengurangi tekanan, dan juga antropologi terhadap perubahan perilaku terhadap tekanan, ujarnya.

Terkait rencana jangka pendek, akan ada sertifikasi bagi nelayan, pembekalan pengetahuan terkait ekosistem, terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun, serta ekosistem pesisir lainnya. Bupati berharap, BRIN bisa memberikan rekomendasi atau penelitian lanjutan, tutupnya. (dsa/ed: suhe)

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI