Monitoring Pendidikan Kelautan Pesisir bagi Siswa di Kabupaten Sikka, Maumere NTT


Maumere, Humas BRIN. Kegiatan Monitoring Pelaksanaan Pendidikan Kelautan yang terkait dengan implementasi Buku Muatan Lokal (MuLok) Kelautan Pesisir dan Laut Kita tingkat Sekolah Dasar ini, masih termasuk dalam rangkaian kegiatan Reef Health Monitoring (RHM) penelitian kesehatan terumbu karang dan ekosistem terkait di Kabupaten Sikka. Sofia Yuniar Sani, Koordinator/perwakilan Tim Penyelenggara RHM menerangkan bahwa “Kegiatan yang sudah dilaksanakan selama bertahun-tahun ini berlangsung panjang, tidak hanya sekedar kegiatan proyek semata. Oleh karena itu dukungan dari pemerintah daerah sangat diperlukan,” terang Sofia dalam kunjungan advokasi dengan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan yang dilaksanakan di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sikka (12/9).

“Pada kesempatan ini, ingin melihat sejauhmana implementasi pembelajaran MuLok ini berjalan di sekolah-sekolah, apakah ada dampaknya bagi anak didik, adakah perubahan pola pikir anak didik terhadap lingkungan sekitar, khususnya pesisir dan laut dilingkungan mereka tinggal, dan bagaimana guru-guru MuLok ketika mengajarkan materi ini, apakah ada kendala atau tidak, dan lain sebagainya,” jelas Sofia. Dirinya pun menambahkan agar monitoring terkait MuLok kelautan ini dapat lebih aktual lagi untuk itu dibutuhkan survei ke sekolah-sekolah untuk melakukan wawancara sederhana baik dengan Kepala Sekolah, perwakilan Guru MuLok Kelautan dan perwakilan siswa dengan alokasi waktu selama tiga hari.

Paulus Hilarius Bangkur, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sikka, dalam pertemuan advokasi tersebut menuturkan bahwa buku MuLok ini sangat berbobot, sampai saat ini pun kebutuhan akan buku MuLok kelautan masih sangat terbatas. “Pada 2019, sehubungan dengan keterbatasan buku MuLok itu, kami meminta ijin kepada LIPI untuk memperbanyak buku tersebut. Namun karena LIPI memberikan kami softcopynya, maka untuk sekolah-sekolah yang masih kekurangan buku, kami berikan softcopynya sebagai alternatif,” tutur Paulus.

“Buku MuLok ini merupakan karya yang tidak ternilai karena pengetahuan. Namanya pengetahuan ini kan tidak dapat dinilai dengan materi. Jadi banyak anak-anak kita ini dengan pembelajaran mulok itu, terinspirasi, dan melanjutkan sekolah dengan beasiswa sampai dengan ke Australia. Public awareness yang dibawa LIPI itu tidak sembarangan. Begitu program habis, MuLok kelautan ini yang jalan terus” terang Paulus. Dirinya pun menerangkan meskipun tingkat SMA sekarang bukan kewenangan kabupaten, namun SMA di Kabupaten Sikka ini sudah menggunakan MuLok Kelautan.

“Percuma kalau anak didik belajar pesisir dan laut tetapi kalau tidak melihat laut. Untuk itu perlu disediakan fasilitas pariwisata seperti kapal laut, lingkungan laut yang bersih, dan sebagainya. Jadi ini akan saya sampaikan ke Bupati, bahwa setiap hari minggu, anak sekolah bergantian untuk melihat laut. Hal inipun bisa menjadi salah satu penunjang pendapatan daerah. Selain itu, anak didik bisa sekalian belajar dengan melihat ekosistem dan biota laut. Jadi menurut mereka, benar ini yang kita pelajari di mata pelajaran MuLok Kelautan” kata Paulus.

Paulus pun mendukung kunjungan ke sekolah sebagai survei kajian cepat, yang akan didampingi oleh salah satu staf Dinas Kelautan dan Perikanan. Sekolah yang dikunjungi berjumlah 6 sekolah, yakni; Sekolah Dasar Inpres Misir, Sekolah Dasar Inpres Wairklau, Sekolah Dasar Inpres 103 Walomarang, Sekolah Dasar Katholik Bhaktyarsa, Sekolah Dasar Inpres XXXVII Kota Uneng, dan Sekolah Dasar Khatolik Yos Sudarso Maumere. (dsa/ed: rdn,mtr)

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI