Upaya Menekan Laju Emisi Karbon dari Laut dan Lahan Hijau


Jakarta, Humas LIPI. Perubahan iklim sebagai fenomena pemanasan global disebabkan berbagai faktor yang ber dampak bagi kehidupan manusia. Hal ini pula yang mendorong minat seorang peneliti Biogeokimia meneliti keterkaitan perubahan iklim yang terjadi di Indonesia bahkan juga dunia. Aan Johan Wahyudi, peneliti Biogeokimia, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan bahwa, Biogeokimia masih relatif baru dan merupakan cabang ilmu baru yang diturunkan dari ilmu kimia oseanografi. Namun, biogeokimia lebih fokus pada mengkaji atau meneliti tentang transfer materi seperti contoh, unsur kimia ada karbon, nitrogen dan lain-lain. “ Biogeokimia ini mempelajari transfer-transfer materi tersebut ke sistem biosphere, geosphere. Kata bio dan geo disebut cabang kimia yang mempelajari Transfer Materi,” jelas Aan pada acara Podcast Me Versus Science pada hari Rabu (4/8).

Aan mencontohkan Transfer Materi, yaitu fotosintesis tanaman atau tumbuhan yang menyerap karbon dioksida di udara, kemudian dibuat menjadi unsur karbohidrat ditubuh tumbuhan tersebut. Tumbuhan itu nantinya akan dimakan oleh hewan, seterusnya sampai ke jaring makanan. “Tumbuhan dan hewan tersebut nantinya mati, dan ketika mati membusuk atau kembali ke tanah. Kira-kira model transfer materinya seperti itu,” paparnya.

Menurutnya, sejauh ini telah terjadi kesepakatan antar negara di dunia terkait dengan karbon dan juga perubahan iklim. “Ada Kyoto protocol dan Paris agreement yang pada intinya tiap negara berkomitment untuk menurunkan emisi karbon,” ungkapnya.

Dirinya menyatakan, Indonesia mampu menurunkan emisi sebanyak 29% secara mandiri, jika ada bantuan dari Luar negeri ditargetkan lebih besar lagi sebanyak 41% emisi yang mampu diturunkan. “Indonesia masih berpotensi untuk mengurangi laju emisi dengan laut dan lahan hijaunya yang luas. Ekosistem di pesisir seperti hutan mangrove, padang lamun yang kemudian di reklamasi, dikonversi, dijadikan macam-macam produk untuk keperluan pembangunan yang menjadi faktor utama emisi di Indonesia,” tegas Aan.

Pengaruh lainnya, menurut Aan yaitu pada semakin tinggi jumlah penduduk suatu negara, maka jumlah populasi semakin tinggi, sehingga kebutuhan energi untuk pangan semakin meningkat.“Untuk memenuhi kebutuhan itu pasti akan banyak yang ikut meningkat, termasuk keperluan lahannya dan berindikasi pada peningkatan emisi. Faktor langsung yang meningkatkan emisi seperti gaya hidup, prilaku, pola pembangunan di suatu negara dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya pengelolaan limbah dan sampah termasuk faktor utama penyumbang karbon, sehingga di Indonesia termasuk sektor utama yang harus dikelola. “Dampak langsungnya perlu kebijakan pengelolaan sampah, misalnya jumlah penduduk yang sama di dua negara yang satu memiliki pengelolaan sampah yang bagus. Grade sembilan dibanding grade yang lima, pasti yang grade lima emisinya lebih banyak,” paparnya.

Dirinya berharap, di lautan Indonesia yang kaya dengan aneka tumbuhan laut ini, tim Biogeokimia Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dapat lebih fokus mencari alternatif-alternatif yang berpotensi untuk menyerap karbon dan menyimpannya kembali di dasar laut. “Selain itu masih ada tumbuhan yang bisa mengurangi laju emisi seperti ada mangrove dan lamun. Dan yang saat ini disinyalir berpotensi untuk mengurangi laju emisi carbon adalah ganggang laut,” tukas Aan mengakhiri bincang-bincang di Podcast. ( rdn, agn / ed:sf, mtr)

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI