COREMAP-CTI Solusi Strategi Riset Kelautan Indonesia


Jakarta, Humas LIPI. Di tengah isu dan permasalahan sektor kelautan yang sangat kompleks dan dinamis, diperlukan perencanaan strategis untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai situasi di masa depan. Executive secretary COREMAP-CTI yang juga peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Udhi Eko Hernawan, mengatakan bahwa peran inovasi riset kelautan melalui program COREMAP-CTI adalah salah satu solusi strategi riset kelautan. “Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI) merupakan suatu program yang didanai oleh Bank Dunia, dan telah membuahkan produk dan infrastruktur riset untuk mendukung riset kelautan yang kolaboratif di Indonesia” ungkap Udhi pada acara live streaming BERITA SATU TV News Chanel “ 30 Minutes With LIPI Scientists: Inovasi Riset Indonesia Bidang Kelautan” Kamis (29/7) pukul 15.30-16.00 WIB.

Dalam pemaparannya Udhi mengungkapkan empat hal yang dilakukan oleh COREMAP-CTI yaitu: (1). Melakukan pemantauan ekosistem pesisir yang meliputi terumbu karang, padang lamun dan mangrove; (2). Penguatan kapasitas lembaga; (3). Komponen riset yang mendukung pada pencapaian target pengelolaan ekosistem pesisir; (4). Peningkatan efektifitas kawasan konservasi perairan nasional. “Dalam hal ini LIPI berperan untuk mengkoordinir berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah daerah dan KKP agar empat komponen yang dilakukan oleh COREMAP-CTI dapat terlaksana mengingat luasnya wilayah lautan Indonesia yang terhampar dari pesisir hingga lautan” tuturnya menjelaskan.

Selanjutnya, COREMAP-CTI ini mengalami restrukturisasi yang mencakup penyederhanaan dan pelurusan kegiatan sehubungan dengan berhentinya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai Executing Agency. “Restrukturisasi pertama pada Juni 2017 mengalihkan peran Executing Agency kepada LIPI hingga saat ini,” terangnya. Menurutnya, COREMAP-CTI yang direstrukturisasi secara umum bertujuan untuk memperkuat kapasitas Lembaga dalam pengawasan dan penelitian ekosistem pesisir untuk menghasilkan informasi pengelolaan sumber daya berbasis bukti dan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan ekosistem pesisir prioritas.

Udhi, menerangkan beberapa hal yang telah dihasilkan dari proyek COREMAP-CTI, yaitu: (1). Membuat pemantauan sistem ekosistem yang terpadu dan menyeluruh, berupa standar untuk melakukan pemantauan dari terumbu karang, padang lamun dan mangrove. (2). Melakukan training terhadap sumber daya manusia pelaksana pemantauan agar kedepan dapat tetap melakukan pemantauan jika COREMAP-CTI telah berakhir. (3). Mengembangkan database untuk sistem ekosistem pesisir dan laut yang berbasis web yang bisa diakses oleh publik sehingga hasil riset dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan beberapa kementrian dalam membuat kebijakan. ‘Kedepan kami akan membuat sebuah platform jejaring pemantauan ekosistem pesisir di Indonesia dan untuk hasil riset terkait pemantauan akan dilakukan pengembangan aplikasi berbasis digital.” terang Udhi.

Pada kesempatan yang sama, I Wayan Eka Dharmawan, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat luas terkait ekosistem mangrove dimana hutan mangrove Indonesia merupakan yang terluas didunia dengan 44 jenis mangrove. “Hutan mengrove merupakan habitat bagi kepiting –kepiting bakau serta berbagai jenis hewan dan yang utama mangrove dapat melindungi masyarakat pesisir dari abrasi pantai dan menjaga kualitas air tawar serta menurunkan dampak dari sunami” jelasnya.

“Tidak hanya itu, jenis mangrove tertentu ternyata dapat dikonsumsi sebagai alternatif bahan pangan, akan tetapi semua manfaat ini tentunya dapat diperoleh jika mangrove berada dalam kondisi yang sehat “ tegasnya. Dirinya menyampaikan bahwa melalui program COREMAP-CTI, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI telah melakukan pemantauan bakau di lebih dari 40 lokasi di Indonesia. Hasil penelitian menghasilkan ribuan kumpulan data struktur komunitas mangrove dari berbagai habitat yang kemudian digunakan untuk mengembangkan perangkat pemantau mangrove MONMANG dan menyusun buku indeks kesehatan mangrove MHI atau Mangrove Health Index

Dikatakan Wayan Eka, Monitoring Mangrove (MONMANG) adalah Salah satu produk inovasi riset bidang kelautan. “MONMANG adalah aplikasi berbasis Android pada ponsel pintar untuk melakukan input data dan analisis langsung dari situs lapangan saat melakukan monitoring,” ungkapnya. Untuk itu, aplikasi ini menyediakan parameter struktur komunitas seperti kepadatan, ukuran morfologi, frekuensi dan dominasi. “Fitur dari MONMANG berikutnya akan memberikan informasi dari kesehatan mangrove sehingga dapat dimanfaatkan oleh para peneliti dan citizen scientists dalam melakukan monitoring kesehatan ekosistem mangrove” paparnya.

Saat ini, perkembangan aplikasi MONMANG telah didownload oleh 500 pengguna android. “Untuk kedepan kami akan membuat sebuah fitur yang dapat mengidentifikasi mangrove secara otomatis dengan menggunakan kamera dari smartphone. Jadi pengguna hanya perlu mengambil foto dari mangrove dan bisa langsung diketahui jenis serta fungsinya sehingga dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat” terang Wayan.

Sementara menurut Plt. Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI, Nugroho Dwi Hananto sekaligus koordinator Ekspedisi Widyanusantara (EWIN) mengungkapkan bahwa EWIN merupakan salah satu kegiatan penelitian ilmiah yang dilakukan LIPI sejak tahun 2006 untuk mengungkap lebih dalam keragaman hayati di Indonesia. “Infrastruktur riset kelautan Indonesia kini lebih terbuka dan kolaboratif guna mengoptimalkan investasi peralatan laboratorium dan armada riset kelautan nasional. Kapal riset Baruna Jaya VIII adalah salah satu infrastruktur riset bidang kelautan yang telah berhasil berlayar dalam beberapa ekspedisi riset, salah satunya Ekspedisi Widyanusantara. Tidak sedikit pula yang dihasilkan dalam ekspedisi ini, salah satunya penemuan-penemuan spesies baru” ungkapnya.

Nugroho, menyampaikan bahwa laut Indonesia itu luas dan dalam dimana 60% dari laut Indonesia memiliki kedalam lebih dari 200 meter. Laut dangkal yang kurang dari 200 meter berada dilaut Jawa dan laut Natuna utara. Dari 60 % laut dalam ini masih sedikit yang kita ketahui potensinya apalagi pada kedalaman 2000-4000 meter. Pada kedalaman ini ditemukan ekosistem yang ekstrim dengan kondisi suhu yang sangat rendah dan tekanan yang tinggi. “Ekosistem disana sangat menarik untuk di eksplorasi sehingga kedepan diharapkan dapat ditemukan senyawa senyawa baru yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Jadi tugas kami untuk saat ini dan kedepan adalah untuk mengeksplorasi potensi laut Indonesia” pungkas Nugroho. (eb/ed: mtr)

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI