Ribuan Teripang Terdampar di Pantai Sambas


Jakarta, Humas LIPI. Berikut penjelasan Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI terkait fenomena teripang/timun laut terdampar dalam jumlah sangat banyak di sisi utara pantai Sambas, Kalimantan Barat pada 14 Juli yang lalu. Penjelasan dari Tim Teripang Pusat Penelitian Oseanografi LIPI (Bioekologi, Penginderaan Jauh dan Oseanografi Fisika) yang dikoordinir oleh Ana Setyastuti, Ismiliana Wirawati dan Muhammad Hafizt.

Jenis timun laut belum dapat dipastikan, karena hanya berdasarkan rekaman video yang beredar. dengan keterbatasan itu analisis sementara adalah:

- Jenis timun laut: termasuk kelompok Caudinidae.

- Ukuran panjang tubuh: 2-5 cm saat hidup.

- Habitat: substrat berpasir

- Kedalaman habitat: lebih dari 25 m (di lokasi tertentu mencapai 5000 m).

- Behavior: burrowing/membenamkan diri di dalam sedimen pasir. Hanya aktif di malam hari atau

hanya keluar dari liang di malam hari untuk mencari makan.

- Catatan: kelompok jenis ini bukan termasuk jenis teripang komersil, bukan termasuk teripang gamat,

dan tidak bernilai ekonomis di Indonesia.

Setelah dilakukan pengecekan kondisi perairan terkait suhu dan kandungan klorofil secara cepat melalui https://worldview.earthdata.nasa.gov/ tidak banyak memberikan informasi dikarenakan tutupan awan yang tinggi pada saat kejadian (13 Juli 2021). Namun kondisi suhu permukaan perairan disekitar pesisir pantai Sambas menunjukkan suhu normal, kisaran 29-30°C.

Sebagai perbandingan Tim melakukan validasi suhu permukaan laut (SPL) melalui data stasiun pengamatan NOAA disekitar perairan Laut Cina Selatan (https://coralreefwatch.noaa.gov/product/vs/map.php). Hasil menunjukkan bahwa SPL hanya mengalami anomali suhu sebesar 0.6 °C dari rata rata suhu bulanan, namun masih pada kisaran normal, yaitu tidak melebihi 30°C.

Kondisi kandungan klorofil-a disekitar perairan barat Kalimantan yang paling dekat dengan Sambas, khususnya pada area muara sungai, pada tanggal 13 Juli memiliki nilai tertinggi mencapai 3,9 mg/m3. Nilai tersebut masih berada dalam kisaran normal.

Sedangkan kondisi gelombang dan arus berdasarkan data dari https://earth.nullschool.net/ pada tanggal 13 Juli 2021 menunjukkan nilai 2500 @ 3.3 s dan 3000 @ 0.67 m/s. Angka tersebut sudah masuk dalam kategori gelombang tinggi dan arus kuat. Data ini juga diperkuat dengan pernyataan dari narasumber perekam video, Ramli dalam berita insidepontianak.com, dan Bapak Antony Aritonang selaku Dosen FMIPA di Universitas Tanjungpura, yang menyatakan bahwa pada malam 13 Juli, sebelum kemunculan teripang, terjadi cuaca buruk dan ombak besar.

Informasi tambahan dari Bapak Antony adalah pernyataan bahwa timun laut yang terdampar masih dalam keadaan hidup (karena masih terlihat berkontraksi/menggeliat), terdapat juga pecahan arang, ikan dan hewan bentik lainnya tapi jumlahnya tidak banyak. Menurut beliau, peristiwa timun laut terdampar juga sempat terjadi pada tahun 2019 di pesisir Lumukutan, Kalimantan Utara (Malaysia), akan tetapi jumlah timun lautnya tidak sebanyak yang sekarang dan jenisnya Holothuria atra. Selain itu, di sekitar Sambas, hampir setiap tahun saat gelombang tinggi (2-5 meter) juga sering ditemukan beberapa anakan hiu terdampar dalam keadaan lemas atau sudah menjadi bangkai.

Dengan data yang terkumpul seperti tersebut diatas, dugaan kuat kami sementara terkait peristiwa ini adalah: terjadi pergerakan massa air dalam ke permukaan (atau disebut dengan upwelling) akibat gelombang tinggi dan arus kuat di malam tanggal 13 Juli, dan pada saat terjadi upwelling tersebut bersamaan dengan perilaku timun laut yang sedang aktif keluar dari liangnya. Timun laut kelompok Caudinidae yang ditemukan disini adalah kelompok yang memang memiliki ukuran tubuh dewasa relatif kecil. Disamping itu, timun laut memang memiliki pergerakan yang lambat, termasuk kelompok Caudinidae ini. Oleh karenanya, saat malam hari sedang keluar dari liang untuk untuk mencari makan, dan terjadi pergerakan arus naik, maka dengan mudah timun laut akan terangkat ke atas dan kemudian terhempas hingga ke pinggir pantai.

Pertanyaan yang mungkin muncul adalah, peristiwa upwelling bias terjadi secara periodik di perairan Indonesia, akan tetapi kenapa baru kali ini mengangkat timun laut ke permukaan? Kemungkinan besar hal tersebut dikarenakan kekuatan arusnya yang cukup kuat. Saat ini sedang musim Timur dimana arus kuat bergerak dari Laut Jawa ke arah Laut Cina Selatan, dan terjadi di malam hari bertepatan dengan timun laut keluar dari liang untuk mencari makan. Namun untuk dapat memastikannya, kami perlu melakukan identifikasi sampel timun laut hingga tingkat species untuk mengetahui spesifikasi habitatnya, kemudian melakukan pengamatan geomorfogi dasar laut, pergerakan arus, gelombang, dan suhu permukaan dalam beberapa waktu sebelum peristiwa ini terjadi.

Pertanyaan lain yang mungkin juga muncul adalah, apakah mungkin karena heatshock dari arus lautnya? Bisa saja, namun kemungkinannya kecil karena kondisi timun laut yang terdampar di pantai sebagian besar masih dalam keadaan hidup dan utuh. Sedangkan menurut beberapa penelitian terkait perubahan suhu yang drastis dapat menyebabkan kematian langsung pada timun laut. (ana)

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI