Enam Jenis Mikroalga yang Memiliki Aneka Manfaat


Jakarta. Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui pusat penelitian maupun satuan kerja sesuai dengan tugas dan kewenangannya telah melakukan diseminasi hasil-hasil riset melalui publikasi maupun kegiatan ilmiah, agar diketahui manfaatnya. “ Diseminasi melalui pendekatan 3 pilar, yaitu: scince for science, science for policy, science for stakeholder dapat terwujud, dan melaksanakan science for scientific intervention” ujar Ratih Pangestuti, Kepala Balai Bio Industri Laut (BBIL) LIPI, dalam Webinar Teknik Budidaya dan Pemanfaatan Mikroalga, pada Kamis (10/12).

“Terkait dengan kegiatan budidaya dan pemanfaatan alga , Balai Bio Industri Laut (BBIL) LIPI. dan Pusat Penelitian Limnologi LIPI telah melakukan studi Pengolahan Hasil Laut Mikro dan Makro Alga Laut Strain Asli Indonesia (MALSAI)”, tuturnya.

Menjelaskan lebih lanjut apa yang disampaikan Ratih, PenelIti Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI, Dedy Kurnianto, menerangkan, mikroalgae adalah alga yang memiliki ukuran mikro, yang bisa dilihat dengan bantuan mikroskop. “Mikroalgae memiliki klorofil ‘a’ sebagai pigmen utama untuk melakukan fotosintesis dan bersifat uniseluler maupun multiseluler,” terangnya. Untuk habitat umumnya berada di perairan tawar, payau sampai laut. Namun untuk beberapa mikroalga dapat hidup di daerah kutub dan daerah lainnya. Beberapa contoh mikroalga yang biasa dimanfaatkan adalah: (1) Tetraselmis sp. (2). Chlorella sp. (3). Navicula sp. (4). Chaetoceros sp. (5). Nannochloropsis sp. (6).  Scenedesmus sp.

Dedy juga menerangkan manfaat mikroalga sebagai: (1). bahan obat-obatan atau penambah daya tahan tubuh, kosmetik; (2). Menghasilkan bahan organik dari karbondioksida dan air, karena   sifatnya yang mampu berfotosintesis; (3).Bioremediasi terutama untuk mengurangi kadar ‘N’ dan ‘P’ dalam suatu limbah; (4). Bahan dasar untuk energi terbarukan. “ Bahan dasar untuk bahan bakar energi terbarukan ini sedang dicari oleh peneliti di dunia” terang Dedy

Sebagai sarana dan prasarana budidaya mikroalga, Dedy pun menjelaskan bahwa “faktor yang paling utama adalah memiliki ruangan. “Kita sebut sebagai ruangan inkubasi, ber-AC untuk mengatur suhu, dilengkapi dengan cahaya untuk sumber fotosintesis; Rak kultur, yang terdiri dari rak, lampu dan aerasi,” rinci Dedy. Dirinya mengatakan, peralatan laboratorium lainnya, yaitu: Mikroskop Haemocytometer, untuk menghitung pertumbuhan mikrolaga; Autoclave, sangat berperan ketika kita akan melakukan sterilisasi; Oven, berguna untuk mengeringkan bahan-bahan setelah melakukan autoclaving;  dan Laminar Air Flow, sangat berguna ketika akan melakukan sub kultultur. (dsa/ed:mtr)

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI