Kenali Mikroplastik di Perairan Laut, Ditinjau dari Sudut Pandang Penelitian


Jakarta, Humas LIPI. Mikroplastik merupakan  partikel mini berukuran 1 µm -5 mm yang keberadaannya di air laut sangat berbahaya bagi ekosistem.” Partikel plastik yang mencemari lingkungan ada beberapa tingkatan, yaitu: Nanoplastic; Microplastic; Mesoplastic; Macroplastic; Megaplastic. Dari tingkatan partikel plastik tersebut, pembahasan difokuskan pada Mikroplastik”, ungkap Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI, Dede Falahudin, dalam webinar “Mikroplastik di Ekosiastem Perairan Darat:  Teknik Identifikasi dan Tantangan Pengolahan”, pada Rabu (23/9).

Dede mengatakan, keberadaan mikroplastik berasal dari Sumber Primer ataupun Sekunder. Adapun untuk Sumber Primer sudah banyak ditemukan, contoh: (1).Microbeads yang ada pada produk lulur mandi, pasta gigi , sabun cuci muka; (2).  biji-biji plastik; (3)  Serat-serat kain. “ Umumnya serat kain tekstil ada mikroplastiknya,  kecuali 100 persen katun itu natural serat”, jelas Dede.

Kemudian, mikroplastik Sumber Sekunder adalah hasil degradasi dari plastik yang berukuran besar berupa foam ataupun fragmen hasil dari fragmentasi. “ Contoh, jika kita belanja ke supermarket menggunakan plastik yang biodegradable akan menyisakan hal yang lebih berbahaya lagi, dan akan tergradasi menjadi partikel-partikel kecil yang dinamakan mikroplastik”, dijelaskan Dede lebih lanjut.

“Penelitian mikroplastik sangat tren saat ini, mengingat datanya sangat penting.  Ketika digunakan dalam proses pengelolaan lingkungan perlu adanya Quality Control / Quality Assurance (QC/QA) sehingga data yang dihasilkan akan lebih valid dan lebih terukur”, sebut Dede. Selain itu, penting adanya penjaminan mutu (QC/QA) dalam penelitian mikroplastik sehingga akan memudahkan dalam menelusuri sumber dan potensi kontaminasi yang dapat mengganggu hasil analisa.

Mikroplastik memiliki beragam jenis polimer, senyawa additive yang menyertainya, sumber asalnya, ukuran, morfologi, warna dan senyawa pencemar yang dapat terserap dengannya menjadikan proses analisanya tidak dapat disederhanakan. “Ada prosedur baku dan terstandar yang dapat diadopsi dalam penelitian mikroplastik dari penelitian terkait pencemaran lain yang sudah ada, seperti pencemaran senyawa POPs, logam berat dan nutrien. Hal tersebut untuk menghasilkan data yang akurat, dapat dilakukan berulang dan terjamin secara keilmuan”, rinci Dede.  

Dede menjabarkan Langkah-langkah penelitian mikroplastik, meliputi: Pertama, Sample Collection: Clean surfaces & container, Field blanks, keep samples covered to mitigate contamination; Kedua, Sample Preparation: Clean laboratory practices, laboratory blanks, reduction of plastic supplies, clothing, etc, used; Ketiga, Sample Analysis: chemical identification of material; Keempat, Data Reporting: Calibration standards & recovery reporting, LOD/LOG reporting (when applicable), Blank subtraction

Penelitian Sampling Mikroplastik di Air, Sedimen dan Pantai/ Sisi Danau

Penelitian  di Perairan laut melalui ekspedisi Kapal Baruna Jaya VIII, pengambilan sampling  dilakukan pada kedalaman tertentu dan kontinyu sepanjang perjalanan survei. “Sampling diambil dari beberapa kedalaman setelah itu disaring oleh coresistem baked untuk meminimalisir adanya kontaminasi dari luar. Langkahnya disaring dibaket, setelah itu lanjut disaring dengan filter”, terang Dede.

Caranya, dengan menggunakan pompa yang bisa disesuaikan dengan kedalaman tertentu, misalnya pompa di seting dipermuknaan atau di tengah-tengah kedalaman maupun didasar perairan, “Sampling area permukaan, untuk kolom air dapat memakai plankton net”, kata Dede. Adapun kelebihannya volume air banyak tersaring, sedangkan kekurangannya, ukuran partikel mikroplastik yang tersaring sekitar >333 µm atau menyesuaikan ukuran mesh jaring  , rincinya.

Berikutnya, Dede menerangkan pengambilan sampling di Sedimen,  menggunakan Gravity Core, Grab, dan Box Core. Perlu diperhatikan pengambilan sampling pada sedimen permukaan, hal-hal berikut ini: Kedalaman mencapai  5-10cm.; Sampel sedimen komposit untuk merepresentasikan kondisi sedimen di titik tersebut; Sampel coring untuk histori pencemaran mikroplastik. “ Sampling dilakukan beberapa kali, minimal 3 kali disatu titik yang sama untuk mendapatkan sampel yang representatif di lokasi tersebut”, papar Dede

Selanjutnya Pengambilan sampling di pantai atau disisi danau,  menggunakan kuadran segi empat ukuran sekitar 0,5 cm sampai dengan 0,5 meter. Ada juga cara sampling dengan coring, bisa dengan diameter tertentu. “Perlu juga disiapkan Transects apakah sepanjang garis pantai atau danau. Biasanya yang diaplikasikan di pantai menggunakan sekitar 100 meter transects”, ungkap Dede. “Yang perlu diperhatikan dalam penelitian di pantai ataupun di danau dilihat jenis volumenya, apakah diambil semuanya kemudian di transportasi ke laboratorium atau sampel di disaring terlebih dahulu di lapangan untuk diambil sebagian ke laboratorium”, tutup Dede.  (mtr/ags)

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI