Riset kelautan untuk kemerdekaan bahari


Oleh:
Dr. A’an Johan Wahyudi
aanj001@lipi.go.id

  • Diplomat Sains ASEAN 2020; 
  • Peneliti Madya Bidang Biogeokimia Laut Pusat Penelitian Oseanografi - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI);  
  • Kontributor dokumen Agenda Riset Samudra pada Konsorsium Riset Samudra

Sejak lebih dari dua setengah abad yang lalu, terjadi perubahan signifikan terhadap aktivitas perindustrian dan perekonomian di dunia. Dampaknya dapat kita rasakan saat ini sebagai kemajuan zaman. Namun di sisi lain, ada hal sangat penting yang menjadi perhatian kita pada lima dekade terakhir, yaitu peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) yang banyak dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dan alih guna lahan.

Peningkatan emisi GRK ke atmosfer inilah yang kemudian menimbulkan perubahan komposisi gas dan meningkatkan efek rumah kaca yang kita kenal dengan pemanasan global. Peningkatan GRK yang mayoritas adalah karbon dioksida menyebabkan perubahan siklus karbon global termasuk sistem karbonat di laut. Perubahan sistem karbonat ini menyebabkan penurunan derajat keasaman air laut, yang kemudian kita kenal dengan pengasaman laut (ocean acidification).

Pemanasan global di sisi lain, menyebabkan terjadinya perubahan pada cuaca dan iklim. Perubahan suhu permukaan bumi mempengaruhi perubahan suhu permukaan air laut. Oksigen yang sangat diperlukan oleh organisme di laut semakin sulit terlarut di suhu laut yang meningkat. Fenomena ini yang kemudian kita sebut sebagai deoksigenasi (deoxygenation).

Saat ini kita menghadapi ancaman nyata berupa laut yang semakin panas, semakin asam dan semakin rendah kadar oksigennya. Ketiganya menjadi ancaman terbesar selain ancaman sampah dan pencemaran. Lagi-lagi, aktivitas manusia menimbulkan dampak kerusakan.

Riset Kelautan 
Wilayah NKRI yang dua per tiga bagiannya adalah laut menjadi sebab keniscayaan pembangunan di sektor kelautan. Sejarah masa lalu bangsa ini juga tidak terlepas dari laut, meski belakangan kita merasakan kurangnya perhatian negara ini pada sektor kelautan. Hampir 70% aktivitas perekonomian Indonesia ditopang dengan berbasis pada aktivitas daratan. Hal ini merembet pada aktivitas riset nasional yang lebih condong bukan pada aktivitas riset kelautan.

Seyogyanya, jika kita melihat pada proporsi laut nasional dan apa yang telah manusia lakukan pada laut kita, maka meningkatkan porsi riset kelautan menjadi sebuah konsekuensi logis. Selain itu riset kelautan menjadi salah satu cara manusia Indonesia untuk membalas budi sekaligus bertanggung jawab atas dampak yang kita berikan. Tiga ancaman terbesar pada laut kita lebih banyak disebabkan oleh aktivitas manusia yang justru berkiblat pada pembangunan di daratan. Sampah yang banyak ditemukan di laut juga sebagian besar berasal dari daratan. Maka dari itu, meskipun saat ini kita tidak terlalu menguasai dan memprioritaskan pembangunan di sektor kelautan, paling tidak kita bisa memulai memprioritaskan riset kelautan nasional.

Lebih jauh dari keniscayaan dan bentuk tanggung jawab, peningkatan porsi riset kelautan menjadi fondasi terhadap visi kemerdekaan dan kemandirian pengelolaan maritim nasional. Layaknya kalimat bijak, “kita perlu tahu tingginya ombak dan kuatnya angin di laut sebelum mengarungi samudra,” maka penguasaan terhadap pengelolaan laut nusantara harus diawali dengan kemandirian dan kemerdekaan melakukan riset kelautan. Selanjutnya, merujuk pada visi pengelolaan laut yang lestari, diperlukan tiga program strategis. Tiga program strategis tersebut adalah 1) riset pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan, 2) pengembangan iptek oseanogafi, dan 3) riset kesehatan laut dan mitigasi dampak antropogenik.

Agenda riset samudra
Akhir tahun 2017, beberapa lembaga riset dan universitas di Indonesia telah mendeklarasikan Konsorsium Riset Samudra. Salah satu latar belakangnya adalah untuk meningkatkan porsi riset kelautan nasional. Sebagai tindak lanjut dari deklarasi tersebut, telah disusun Agenda Riset Samudra sebagai rencana saintifik riset kelautan. Ada tujuh agenda riset yang merujuk pada dorongan strategis rencana pembangunan nasional. Tujuh agenda riset samudra ini sejalan dengan tiga program strategis riset strategis yang telah disebutkan sebelumnya.

Agenda riset samudra yang pertama adalah riset pendayagunaan sumber daya alam. Agenda riset ini berlandaskan dorongan strategis berupa terwujudnya pendayagunaan sumber daya alam hayati dan nirhayati berkesinambungan. Pemanfaatan sumber daya bahari bagi pembangunan harus diawali dari riset, disamping untuk mengetahui potensi dan cara pemanfaatannya, juga termasuk untuk menjamin pemanfaatan yang lestari. Riset-riset terkait pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hayati dan nirhayati laut termasuk dalam agenda riset ini.

Tiga agenda riset berikutnya terkait dorongan strategis berupa terwujudnya keserasian pemanfaatan ruang laut, perlindungan fungsi lingkungan laut, dan terwujudnya kemampuan pertahanan dan keamanan maritim yang mampu menegakkan kedaulatan negara. Riset oseanografi (fisika, kimia, biologi dan geologi) serta kesehatan laut terkait langsung dengan agenda ini. Termasuk di dalam agenda riset tersebut adalah usaha mewujudkan sistem observasi laut dan iklim nasional yang berfungsi untuk mendukung pertahanan keamanan maritim dan pemanfaatan ruang laut.

Agenda riset samudra juga terkait langsung dengan perekonomian nasional yaitu riset infrastruktur maritim dan riset kelautan untuk perekonomian maju dan mandiri. Pengembangan sains dan teknologi terkait infrastruktur maritim sangat diperlukan untuk mendorong konektivitas di negara kepulauan seperti Indonesia. Pemerataan perekonomian tentunya tidak terlepas dari konektivitas antar pulau. Riset pemanfaatan sumber daya hayati laut juga menjadi bagian dari usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Riset-riset semacam ini perlu diimbangi pula dengan pemberdayaan masyarakat pesisir dan nelayan nasional.

Selanjutnya agenda riset yang tak kalah penting adalah untuk menjawab dorongan strategis terwujudnya strategi nasional terkait adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dan penurunan risiko bencana. Sebagaimana dijelaskan di awal, bahwa perubahan iklim menjadi ancaman terbesar abad terakhir ini, maka diperlukan riset-riset untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Riset multidisiplin oseanografi terkait sistem biosfer cukup penting menjadi fondasi agenda riset ini.

Riset kelautan untuk kemerdekaan bahari
Merujuk pada pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia, bahwa peringatan kemerdekaan Indonesia ke 75 ini harus menjadi titik tolak lompatan pembangunan perekonomian nasional. Jadi, sudah menjadi konsekuensi logis bahwa lompatan tersebut termasuk pula dalam pembangunan maritim nasional. Dan sekali lagi, peningkatan pembangunan maritim nasional harus diiringi dengan lompatan dan peningkatan porsi riset kelautan di Indonesia. Peningkatan riset kelautan di Indonesia tentunya menuntut lompatan kebijakan riset kelautan termasuk didalamnya porsi anggaran.

Meskipun demikian, kita juga menyadari bahwa sebagian dari penyelenggara negara ini akan menuntut bukti riset kelautan selama ini sebagai dasar untuk meningkatkan porsi kebijakan anggaran. Sebagian kita mungkin mempertahankan diri dengan menyatakan bahwa hasil riset yang signifikan dan bagus harus diawali dari input (sumber daya manusia, sarana dan anggaran) yang cukup. Perdebatan ini pasti tak ada ujungnya layaknya perdebatan tentang lebih dulu mana ayam dan telur.    

Oleh sebab itu, harus ada niat yang kuat dari negara ini untuk memutuskan, akan menyediakan ‘telur’ atau ‘ayam’nya terlebih dulu. Peringatan kemerdekaan ke-75 dan dibentuknya Badan Riset dan Inovasi Nasional seharusnya menjadi momentum yang tepat untuk titik tolak lompatan kebijakan riset kelautan nasional.

Sebagai pernyataan pamungkas, kalaupun negara ini tidak kunjung sadar untuk segera menghadap samudra dalam segala aspek kebijakannya, kita yang diberikan sumber daya kreativitas dan kemerdekaan berpikir akan tetap bergerilya untuk memajukan riset kelautan nasional. Kita harus yakin, bahwa semangat kemerdekaan Indonesia akan mendorong tercapainya kemajuan riset kelautan Indonesia untuk kemerdekaan bahari.

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI