Kehidupan Udang Pistol dan Kelomang, Sebagai Biodiversitas Biota Laut Indonesia


Jakarta. Humas LIPI. Indonesia tercatat sebagai negara maritim yang memiliki kekayaan biodiversitas laut terbesar di dunia. “ Bicara mengenai biodiversitas laut di Indonesia tidak akan habis, karena Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki laut begitu luas dengan kekayaan  sumber daya laut, khususnya biota laut yang sangat banyak”, tutur Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Augy Syahailatua, dalam webinar ” Biodiversitas Biota Laut Indonesia: Udang Pistol (Alpheid) dan Kelomang (Paguroid), pada Kamis (3/9).

“Banyaknya biota laut tersebut, kemungkinan ada jenis yang belum kita temukan dan belum diberi nama. Namun demikian, seiring berjalannya waktu, disatu sisi kita ingin meningkatkan pengetahuan tentang biodiversitas laut di Indonesia, sementara disisi lain juga terjadi kepunahan dari biota-biota laut tersebut. Sehingga sebelum terungkapkan, biota laut tersebut sudah mengalami kepunahan”, ungkap Augy.

Augy menerangkan, meskipun laut kita luas, biota kita banyak, namun ahli taksonomi tidak banyak di Indonesia. Perlu banyak ahli untuk mengungkapkan biota laut di Indonesia ini. “Webinar ini mencoba memahami tentang aspek biota laut, khususnya untuk udang pistol, dan klomang”, terang Augy.

Mengenal Kehidupan Udang Pistol

Udang pistol  merupakan marga yang terbesar dan terbanyak didalam family (suku)  Alpheidae. Ditemukan di dunia sekitar 1119 jenis, terbagi dalam 50 marga. Sedangkan diperairan Indonesia ditemukkan lebih dari 150 spesies, dan sekitar 20-30 marga. Ciri dari udang pistol dapat menimbulkan suara yang sangat keras pada kondisi kurang aman atau di saat predator menyerang.

Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Rianta Pratiwi, menerangkan bahwa habitat udang ini berada di daerah : terumbu karang; pasang surut yang  ditemukan di dalam lubang-lubang bersubstrat pasir; hutan bakau (mangrove) yang hidup didalam lubang-lubang bersubstrat lumpur. “ Udang pistol hidup sebagai simbion di beberapa hewan invertebrata  (anemone, echinodermata, spons anelida, dan ikan)”, sebutnya.

“Secara morfologi, udang jenis ini bertubuh kecil, berukuran panjang sekitar 3-10 cm. Tidak memiliki nilai ekonomis, karena tidak bisa dimakan. Ciri lainnya, memiliki rostrum pendek dan runcing serta permukaan karapas yang halus”.  

Rianta menjelaskan, secara sistematika, klasifikasi dan identifikasi udang pistol, terbagi atas 7 kelompok, yaitu: megacheles, macrochirus, obesomanus, crinitus, diadema, brevirostris, edwarasii. “Pembagian tersebut berdasarkan ciri dari masing-masing organ tubuh, bentuk capit besar, bagian depan rostrum, dactylus dan merus dari kaki peropod ketiga” jelasnya.

Dirinya menguraikan, udang pistol adalah satu-satunya hewan laut yang menerapkan sistem sosial unik bernama eusosial, yakni pembagian kerjasama dalam membesarkan anak secara kolektif. “Udang pistol jantan selalu dalam kondisi siaga; dengan capit besar sigap dan siap berpartoli disekeliling koloni, untuk  melindungi ratu udang yang menetaskan telur”, sebut Rianta. Dijelaskan lebih lanjut bahwa, keberadaan udang pistol di alam menjadi bioindikator kesuburan yang menandakan bahwa daerah/ekosistem tersebut masih subur.

Mengenal Kehidupan Kelomang

Peneliti Balai Bio Industri Laut LIPI, Dwi Listyo Rahayu, menjelaskan Kelomang atau Hermit Crab adalah krustasea dekapoda yang termasuk infra ordo anomora dan superfamily Paguroidea. Mempunyai sekitar 1.192 spesies di dunia. “Bentuk tubuhnya tidak simetris, abdomen lunak, lurus, melingkar/ melengkung.  Jenis kelamin dicirikan dari gonopore tubuh yang jantan terletak pada kaki kelima, sedangkan yang betina pada pangkal kaki ketiga”, terang Rahayu

“Habitat kelomang, ditemukan diberbagai habitat, mulai dari darat (terrestrial) sampai ke laut dalam (deep ocean floors), yang tersebar dari kutub sampai daerah tropis. Di daerah littoral tropis, kelomang adalah jenis biota yang paling banyak dijumpai. Di daerah pasang surut kelomang banyak dijumpai terutama di daerah pantai berbatu, berlumpur dan padang lamun”, sebut Rahayu.

Dijelaskan, tingkah laku sosial kelomang sangat unik. Ketika dua individu kelomang bertemu, tidak akan saling peduli. “Mereka bertemu ketika akan kawin atau mereka berkelahi. “Tingkah laku perkelahian pada kelomang terjadi pada pertukaran ‘rumah’ (cangkang gastropod). Ini seringkali terjadi melibatkan kelomang oportunis (multi crab shell-exchange interaction). Para oportunis ini tidak terlibat dalam perkelahian, mereka hanya menunggu dibelakang sampai ada cangkang yang ditinggalkan oleh penghuninya dan segera menempati cangkang tersebut”,  jelasnya.

Manfaat kelomang, selain bisa dikonsumsi, sebagai umpan memancing ikan dan binatang peliharaan, juga menjadi indikator dari berbagai kondisi lingkungan. Bila terjadi intrusi air tawar (buangan air tawar dari rumah tangga), maka kelomang jenis tertentu saja yang bisa hidup. “Ketika kelomang ditemukan dalam jumlah berlimpah pada suatu daerah maka dapat dikatakan bahwa terjadi kematian moluska gastropoda, karena kelomang sangat tergantung dari ada tidaknya cangkang gastropoda. “Kelomang adalah pemakan segala (scavenger), sehingga fungsinya di alam adalah mendaur ulang dengan cara memakan serasah dan biota”, lanjut Rahayu.

Sebagai informasi,  39 persen dari genus dan 17 persen  dari spesies yang ditemukan diperairan laut dunia dapat ditemukan di Indonesia. Jenis terbanyak yang ditemukan adalah family diogenidae yang umumnya ditemukan di daerah litoral. “ Untuk mengungkapkan kekayaan jenis kelomang di Indonesia perlu dilakukan koleksi lebih intensif di daerah subtidal dan laut dalam”, tutup Rahayu. (dsa/ed:mtr).

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI