Riset Oseanografi untuk Pembangunan Rendah Karbon


Oleh: A’an Johan Wahyudi

  • Peneliti Biogeokimia Laut (Pusat Penelitian Oseanografi - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
  • ASEAN Science Diplomat (2020)

aanj001@lipi.go.id
 
Setiap aktivitas konsumtif maupun produktif manusia akan meninggalkan emisi gas rumah kaca (GRK). Saat ini emisi GRK semakin meningkat dan salah satu yang terbanyak adalah karbondioksida. Sehingga kita mengenal istilah jejak karbon (carbon footprint), yaitu jumlah GRK (dalam satuan berat karbon atau disetarakan dengan karbon) yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia.

Emisi GRK paling banyak dihasilkan dari kegiatan pembakaran bahan bakar fosil (kendaraan bermotor, industri, dsb) dan alih guna lahan, yang kemudian melepaskan karbon ke atmosfir. Peningkatan emisi karbon ke atmosfir inilah yang kemudian menimbulkan perubahan komposisi gas dan efek rumah kaca yang kita kenal dengan pemanasan global. Lebih kompleks lagi, perubahan ini mengakibatkan perubahan siklus karbon global, terjadinya perubahan iklim dan pengasaman laut. Perubahan-perubahan yang bersifat global ini, sudah nyata terlihat berdampak negatif pula pada keanekaragaman hayati dan berbagai aspek kehidupan manusia.
 
Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon
Indonesia telah meratifikasi Kesepakatan Paris (Paris Agreement) dan sekaligus mendeklarasikan bahwa akan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dengan target tertentu sampai tahun 2030. Presentase penurunan emisi GRK ditargetkan sampai 29% (secara mandiri) atau 41% (dengan dukungan luar negeri) relatif terhadap business as usual (BAU). Kondisi BAU adalah kondisi dimana emisi GRK yang dihasilkan berasal dari berbagai aktivitas tanpa usaha/intervensi untuk menurunkannya.

Sebagai tindak lanjut ratifikasi, pemerintah Indonesia mencanangkan pembangunan berkelanjutan yang mengedepankan keseimbangan aspek lingkungan, ekonomi dan sosial, melalui Pembangunan Rendah Karbon (PRK). PRK dilakukan merujuk pada Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui PRK, pembangunan dilakukan untuk memicu pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain tetap mempertahankan daya dukung dan daya tampung lingkungan, meminimalkan eksploitasi sumber daya alam, serta meningkatkan aspek sosial masyarakat.

PRK saat ini telah ditetapkan sebagai program prioritas pembangunan dalam Prioritas Nasional 6 “Membangun Lingkungan Hidup, Meningkatkan Ketahanan Bencana dan Perubahan Iklim”. Sektor-sektor pembangunan yang menjadi target PRK adalah kehutanan, pertanian, energi, transportasi, pengelolaan limbah pencemar, industrial process and production use (IPPU), serta sektor laut dan perikanan.

Dimasukkannya sektor laut dan perikanan menjadi titik tolak PRK pada saat rilis inisiatif ini pada awal 2020. Sebelumnya, Indonesia memiliki Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) yang belum memasukkan sektor laut dan perikanan. Masuknya sektor baru pada PRK merupakan keputusan yang bagus dan penting mengingat 70% wilayah nasional Indonesia adalah wilayah perairan laut. Selain itu, sesuai dengan visi pembangunan untuk menjadi poros maritim dunia, sudah saatnya kita merujuk ke laut sebagai sektor pembangunan utama di Indonesia.
 
Peran Riset Kelautan (Oseanografi)
Riset oseanografi menjadi sangat krusial untuk mendukung PRK terutama di sektor pengelolaan limbah dan sektor kawasan pesisir dan laut. Beberapa kegiatan riset yang relevan antara lain: riset penyerapan karbon oleh ekosistem laut, riset mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, riset pengelolaan sampah dan pencemaran laut, riset pengelolaan sumber daya hayati laut dan layanan ekosistem, serta riset variabilitas spatio-temporal iklim dan laut.

Sebagai salah satu lembaga nasional yang melakukan riset kelautan, Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) telah memiliki tiga program strategis. Tiga program strategis tersebut adalah 1) riset pengelolaan SDL berkelanjutan, 2) pengembangan iptek oseanogafi, dan 3) riset kesehatan laut dan mitigasi dampak antropogenik. Merujuk pada Prioritas Nasional, maka P2O akan memfokuskan kegiatan risetnya dengan kegiatan flagship yaitu "Riset Oseanografi untuk Pembangunan Rendah Karbon". Flagship ini menjadi bagian dari visi jangka panjang riset oseanografi untuk ketahanan ekosistem laut Indonesia.

Kegiatan flagship Riset Oseanografi untuk Pembangunan Rendah Karbon akan dilaksanakan bersama mitra kolaborasi yang terdiri dari berbagai lembaga riset dan universitas baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya hasil riset akan dapat dimanfaatkan oleh mitra pengguna terutama untuk berbagai kepentingan dalam inisiatif PRK.

Rencana implementasi aktivitas kegiatan riset oseanografi untuk PRK yang pertama adalah riset variabilitas spatio-temporal iklim dan karbon laut. Agenda riset ini sangat penting sebagai bagian dari PRK sekaligus implementasi SDG 13 dan 14. Data dan informasi yang valid dan kredibel dari agenda riset ini akan sangat berguna untuk pengelolaan laut sebagaimana kaidah “kita akan bisa mengelola sesuatu yang bisa kita ukur.” Riset ini akan mencakup riset dasar, pengembangan, dan terapan mengenai isu iklim, oseanografi dan karbon laut.

Agenda riset berikutnya adalah riset inventarisasi penurunan GRK, penyerapan karbon oleh vegetasi laut, teknologi restorasi dan rehabilitasi ekosistem pesisir. Agenda riset ini mendukung secara langsung inventarisasi dan perhitungan penurunan emisi GRK dari sektor laut dan perikanan. Kebijakan satu data yang dikembangkan oleh sekretariat PRK, Kementerian Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menuntut adanya metode perhitungan penurunan emisi GRK sebagai dasar untuk target penurunan emisi pada 2030.

Riset terkait pengelolaan sumber daya laut (SDL), layanan ekosistem dan adaptasi wilayah pesisir terhadap perubahan iklim juga termasuk dalam riset oseanografi untuk PRK. Merujuk pada sasaran utama PRK yaitu keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, maka konsep pengelolaan SDL, layanan ekosistem dan adaptasi wilayah pesisir perlu dikaji secara komprehensif.

Agenda riset lainnya yang tidak kalah penting adalah riset kesehatan laut. Riset ini mencakup kajian dan penentuan indeks pencemaran, indeks toksisitas dan indeks kesehatan ekosistem. Berbagai indeks yang dikembangkan akan bermanfaat untuk menentukan derajat ketahanan dan kesehatan ekosistem yang selanjutnya berguna untuk menginterpretasikan daya dukung lingkungan laut. Rekomendasi pengelolaan bahan pencemar dan sampah laut bisa dihasilkan dari agenda riset kesehatan laut. Rekomendasi berbasis riset diharapkan dapat menjadi landasan valid untuk kebijakan pembangunan nasional dalam kerangka PRK.
 

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI