Tujuh Tahapan Budidaya, Kunci Penting Atasi Kesulitan Produksi Teripang Pasir (Holothuria Scabra)


Jakarta, Humas LIPI. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) LIPI, Agus Haryono, menyampaikan bahwa LIPI melalui Balai Bio Industri Laut (BBIL) telah mengembangkan teknologi budidaya hingga pengolahan produk teripang pasir yang siap dialih teknologikan ke industri dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Menurutnya, teripang pasir (Holothuria scabra)  merupakan komoditas laut sangat dibutuhkan bagi manusia yang  saat ini produksi dan kelestarian sumberdayanya semakin menurun. “ Meskipun sangat sulit dibudidaya, studi LIPI berhasil mengembangkan teknologi budidaya teripang pasir”, tutur Agus dalam acara webinar ‘Teknologi Budidaya Teripang Pasir (Holothuria Scabra)’, pada Rabu (22/7).

Peneliti BBIL LIPI, Lisa Fajar Indriana menyebutkan ada tujuh tahapan teknologi budidaya dilihat dari: (1). Seleksi Induk; (2) Pemijahan; (3).  Pemeliharaan Larva; (4). Fase Penempelan; (5). Pendederan; (6). Pembesaran; (7) Panen dan Paska Panen. “Selama ini produksi teripang umumnya diperoleh dari penangkapan di alam. Semakin hari semakin sulit dicari, karena sumber daya untuk melakukan penangkapan ini semakin terbatas”, jelasnya. Kondisi ini, kata Lisa akan berdampak pada hasil tangkapan di alam menurun. Sementara permintaan pasar yang semakin tinggi, maka dilakukan studi untuk pengembangan teknologi budidaya teripang pasir

“Disisi lain adanya tangkap lebih di alam, tanpa memperhatikan ukuran akan menurunkan  populasi dan produksi teripang pasir secara global. Selain itu, teripang pasir diusulkannya masuk ke dalam daftar biota yang terancam punah (Red List of Threatened Species IUCN)”. Ujar Lisa.

Lebih lanjut Lisa menjelaskan, di Indonesia ada sekitar 400 spesies teripang, dimana 56 jenis diperdagangkan. Untuk perdagangan teripang sendiri sudah diperdagangkan lebih dari 1000 tahun. Tujuan utama ekspor ke Cina, Hongkong dan Singapura. “Di Indonesia belum familiar dikonsumsi sehari-hari”, jelas Lisa. Dirinya merinci bahwa sebaran teripang pasir di dunia mayoritas di Perairan Indo-Pasifik, Asia, Afrika, dan dapat ditemukan di kurang lebih 26 negara. Sedangkan untuk sebaran di Indonesia dapat ditemukan di hampir seluruh peraiaran Indonesia.

Sigit A.P. Dwiono, Staf Ahli di BBIL LIPI, mengatakan, terkait dengan teknologi budidaya, tahapan pendederan adalah salah satu kegiatan produksi pembesaran benih di laut. Persyaratan untuk lokasi pendederan, yaitu: Perairan tenang, terlindung bebas dari gelombang dan arus keras; jauh dari sungai/ tidak ada banjir dari darat; Dasar kurungan masih tergenang sekitar 5 cm saat surut rendah; dasar perairan pasir berlumpur atau lumpur berpasir; Dekat padang lamun dan hutan bakau; Tidak ada polutan. “ Studi untuk lokasi pembesaran benih dilakukan di perairan Sub- teluk di Lombok” jelas Sigit.

Hasil pertumbuhan teripang pasir di Sunut, Lombok Timur dinyatakan cukup baik dengan ukuran kisaran 0.19 – 1,35g/ hari. “Diseminasi budidaya teknologi teripang pasir dalam  disampaikan kepada pemangku kepentingan, antara lain: Nelayan pembudidayaan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Perorangan dan Swasta”, tutup Sigit.  (dsa/ed:mtr)

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI