Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Peningkatan Sampah Plastik


Jakarta, Humas LIPI. Pandemi COVID-19 telah berdampak pada habitat alam dan lingkungan, yang berakibat pada peningkatan limbah plastik . “Selama pandemi kita telah melihat adanya ekologi rebound serta peningkatan kualitas udara dan jejak karbon. Namun, kita dihadapkan pula pada isu sampah plastik,” ujar Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI yang juga tergabung dalam Tim Teliti Sampah Plastik LIPI, Intan Suci Nurhati, dalam acara World Ocean Days: How COVID-19 Affects Our Ocean yang diselenggarakan secara daring oleh @america pada Selasa (9/6).

Intan menyebutkan bahwa peningkatan limbah plastik selama pandemi COVID-19 disebabkan oleh peningkatan aktivitas belanja online dan penggunaan jasa layanan pesan antar (delivery). “Selama pandemi, masyarakat stay at home dan banyak bergantung pada layanan delivery yang banyak dibungkus plastik, buble wrap, dan selotip,” terang Intan.

Tim Teliti Sampah Plastik LIPI melakukan survei online terkait penggunaan sampah plastik selama pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat dan Makassar pada 20 April - 5 Mei 2020. Hasil penelitian pada 1095 responden usia 15 tahun ke atas menunjukkan bahwa selama pandemi di Jabodetabek, sampah plastik dari jasa antar paket meningkat 62 persen sementara plastik dari jasa antar makanan siap saji meningkat 47 persen.

“Di Jabodetabek, semua responden mengaku mengalami peningkatan delivery paket dan makanan. Untuk di provinsi lainnya, beberapa responden mengaku mengalami peningkatan namun beberapa lainnya mengalami penurunan delivery paket dan makanan,” jelas Intan.

Survei menunjukkan, mayoritas responden yang sebelumnya hanya melakukan belanja online 1 hingga 5 kali dalam satu bulan, menjadi 1 hingga 10 kali selama PSBB/WFH, khususnya di wilayah Jabodetabek. Data responden Jabodetabek menunjukkan pembelian online didominasi oleh makanan, disinfektan, obat, dan alat pelindung diri. Pembelian obat meningkat dari 14,1 persen menjadi 36,5 persen; alat pelindung 4,6 persen menjadi 34,6 persen; disinfektan meningkat dari 10,0 persen menjadi 42,1 persen. Sebaliknya, pembelian online kosmetik menurun 31,6 persen menjadi 28,5 persen; terkait hobi dan olahraga 26,0 persen menjadi 18,0 persen; dan busana menurun dari 50,7 persen menjadi 24,7 persen”, ujar Intan.

Selanjutnya, 60 persen responden mengaku bahwa penggunaan bungkus plastik tidak mengurangi risiko terpapar COVID-19. Hal tersebut sesuai dengan penelitian bahwa virus dapat bertahan di permukaan plastik selama 2-3 hari, lebih lama dibanding permukaan lain seperti kardus atau stainless steel. Untuk itu disarankan segera membuka paket saat sudah diterima, menyemprotkan disinfektan lalu diamkan beberapa saat.

Adapun, tingkat kesadaran masyarakat tentang isu limbah plastik, 98% responden mengaku sadar pentingnya pengelolaan sampah plastik yang benar, namun hanya setengah dari presentase tersebut yang benar-benar memisahkan sampah plastik dari sampah lainnya.“Kita harus benar-benar mengubah kesadaran kita akan isu sampah plastik menjadi tindakan secara inklusif dan mengukur hasil dari usaha mengurangi limbah plastik,” tutup Intan. (iz/ Ed. mtr)

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI