Riset dan Konservasi Jadi Kunci Pemanfaatan Potensi Laut Indonesia


Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi mengajak semua pihak  untuk bergerak bersama mengoptimalkan potensi laut Indonesia.  “Riset, termasuk aktivitas dan infrastrukturnya, berperan penting dalam memberikan landasan pengelolaan laut Indonesia secara berkelanjutan,” jelas Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko dalam kegiatan Media Briefing Hari Bumi di Kapal Riset Baruna Jaya VIII di Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara pada Senin (22/04) lalu.

Untuk kegiatan riset, pada tahun ini LIPI menjadikan kesehatan ekosistem laut sebagai fokus program riset tahun ini. “LIPI melakukan terhadap terumbu karang dan ekosistem terkait yang akan dilakukan setidaknya di 40 lokasi di perairan Indonesia. Tahun ini ada 17 lokasi yang akan dipantau,” ujar Kepala Pusat Penelitian Osenografi LIPI Dirhamsyah dalam.

Menurut Dirhamsyah, dari hasil pemantauan berkala tersebut telah dikembangkan indeks kesehatan karang dan dalam waktu dekat juga akan dikembangkan indeks kesehatan untuk mangrove dan lamun. “Dari penelitian yang sudah dilakukan pada tahun 2018, indeks kesehatan terumbu karang berada pada skala 5. Ini artinya terumbu karang berada dalam kondisi sedang dengan potensi pemulihan tinggi tetapi biomassa ikan karang rendah.”

Pada tahun lalu LIPI melakukan pementauan terumbu karang 13 lokasi dengan luas 7,2 hektar atau setara dengan total luas 2% perairan Indonesia. “Keadaan terumbu karang yang tidak baik kurang dari 25%, keadaan cukup baik kurang dari 50%, kondisi baik kurang dari 75%, dan sangat baik lebih dari 75%,” jelasnya.

Sementara untuk mangrove dan lamun, mangrove yang masih dalam kondisi baik lebih dari 75%, dalam keadaan cukup baik kurang 75% dan dalam keadaan buruk kurang 50%. Sedangkan untuk lamun, dalam keadaan baik lebih dari 60%, cukup kurang 59,9%, dan buruk kurang dari 29,9%.

LIPI juga melakukan penelitian pada beberapa spesies laut yang dikategorikan terancam punah, yakni hiu dan manta, ikan capungan Banggai (Pterapogon kauderni), ikan napoleon wrasse (Cheilinus undulatus), dan teripang. Untuk jenis-jenis biota laut ini LIPI membuat surat rekomendasi untuk penangkapan kuota. “Beberapa waktu lalu kita sudah membuat surat rekomendasi kuota tangkap hiu lanjaman yang menyatakan penangkapan hiu lanjaman minimal berukuran 2 meter dan berat 50 kilogram. Hal yang sama juga kami lakukan untuk biota laut lainnya,” ujar Dirhamsyah.
 

Potensi kekayaan laut Indonesia
Dalam kesempatan yang sama, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Puji Rahmadi menyebutkan perkiraan kasar nilai potensi laut indonesia sampai Maret 2019 adalah senilai 1.772 triliun. “Angka ini sama dengan 93% total pendapatan APBN Indonesia di tahun 2018," jelasnya.

Kekayaan kasar yang dimaksud Puji adalah angka yang diambil dari nilai mentah potensi kekayaan Indonesia. Artinya, belum termasuk perhitungan-perhitungan subjektif yang membuat nilai kekayaan tersebut menjadi berbeda-beda di tiap daerah.”Di angka 1.772 triliun ini, 312 triliunnya adalah dari perikanan, 45 Triliun dari terumbu karang, 21 triliun dari mangrove, 4 triliun dari lamun, 560 triliun adalah potensi kekayaan pesisir, 400 triliun bioteknologi, 20 triliun wisata bahari, 210 triliun minyak bumi, dan 200 triliun dari transportasi laut.”
 
Puji mengatakan bahwa penilaian riset potensi kekayaan laut ini belum mutlak, masih ada beberapa keragaman hayati lainnya lagi yang perlu diverifikasi nilainya. “Kekayaan laut Indonesia bisa lebih teratur secara administratif dan penegakkan hukumnya bisa lebih mudah ditegakkan karena nilai riilnya ada,” tutupnya (dnh/ed: fza)

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI